Main » 2009 » November » 9 » Mengapa perlu belajar sejarah gereja?
Mengapa perlu belajar sejarah gereja?
8:13 AM

 

Mengapa perlu belajar sejarah gereja?

 

He who will not learn from history is condemned to repeat it

--- George Santayana ---

 

 

Ada banyak alasan mengapa kita perlu belajar sejarah gereja. Berikut ini adalah beberapa di antaranya:

1.      Allah sendiri menyatakan diri melalui sejarah.

a.       Agama Israel sebenarnya adalah ‘agama sejarah’. Berbeda dengan agama kuno lain yang didasarkan pada spekulasi metafisikal, takhayul atau pemahaman filosofis, agama Israel didasarkan pada apa yang Allah lakukan dalam sejarah. Semua yang Allah lakukan dalam sejarah sebenarnya menyatakan karakter Allah sendiri.

b.      Beberapa kitab PL yang dari kacamata modern dikategorikan "kitab-kitab sejarah”, dalam kanon Ibrani digolongkan sebagai "kitab nabi-nabi” (Yosua, Hakim-hakim, 1&2 Raja, 1&2 Samuel), karena dari perspektif orang Israel apa yang dikatakan Allah sama pentingnya dengan apa yang Dia lakukan.

c.       Orang Israel terbiasa memandang sejarah sebagai dasar untuk berharap kepada Allah (1Sam 17:34-37; Ibr 11:4; 12:1).

d.      Kekristenan pun didasarkan pada peristiwa sejarah (band. 1Kor 15:13-18).

e.       Herbert Butterfield à lebih dari segala-galanya, kekuatan ingatan historislah yang telah mampu mengikatkan orang Israel bersama sebagai suatu bangsa.

2.      Sejarah turut menyatakan kedaulatan dan kesetiaan Allah.

a.       Pembebasan dari tanah Mesir menyatakan kesetiaan (Kel 2:23) dan kemahakuasaan Allah (Kel 6:6; 12:12; cf. Rom 9:17).

b.      Kedaulatan Allah bukan hanya atas umat-Nya, tetapi atas seluruh sejarah di muka bumi (Hab 1:6; Yes 44:28; 45:1-6; Am 9:7).

c.       Kedatangan Kristus di abad ke-1 M sesuai dengan rencana kekal Allah (Galatia 4:4 dan Rom 5:6).

q  Penggunaan bahasa Yunani sebagai lingua franca (band. Yoh 12:20-22).

q  Politik Pax Romana (Kedamaian Romawi), misalnya Yoh 11:48; Kis 16:38; 22:25-29.

q  Perhatian terhadap aspek Infrastruktur Romawi untuk keperluan administrasi, ekonomi dan, terutama, keamanan.

q  Keterbukaan dan sejarah pluralitas yang panjang (Kis 17:22-34, terutama ayat 21) à agama misteri vs. filsafat, pelacuran bakti/homoseksualitas vs. moralitas Taurat yang ketat.

3.      Sejarah berperan sebagai pembimbing ke dalam pengetahuan Alkitab.

a.       Sejarah pada jaman Alkitab turut membantu kita memahami isi Alkitab (Yoh 4:9; 10:22).

b.      Sejarah setelah jaman Alkitab juga turut menjadi peringatan terhadap kesesatan. Beragam misinterpretasi, ajaran sesat  dan fenomena lain yang sedang terjadi sekarang sebenarnya sudah ada pada jaman dahulu, tetapi gereja sekarang tidak mau belajar dari sejarah. Pendeknya, tidak ada yang baru di bawah matahari (Pengkhotbah 1:9).

q  New Age Movement secara esensi sama dengan Gnosticisme abad ke-2.

q  Ekses dalam gerekan kharismatik sama dengan Montanisme.

4.      Sejarah membantu kita lebih bijaksana dalam berinteraksi maupun respek terhadap orang percaya dari denominasi, kepercayaan maupun tradisi yang lain. Sejarah membebaskan kita dari tirani tradisi (yang sudah kita anggap sebagai "kebenaran”) dan memampukan kita menghormati tradisi orang lain.

q  Perdebatan tentang otoritas King James Version (KJV).

q  Perdebatan tentang penggunaan instrumen dalam ibadah.

q  Perdebatan tentang pemakaian ornamen/alat tertentu dalam gereja.

q  Perdebatan tentang fenomena supranatural Roh Kudus.

5.      Sejarah berguna untuk memberikan inspirasi, peringatan maupun pemahaman yang lebih luas.

a.       Biografi para tokoh besar kekristenan seringkali mampu memberikan inspirasi dan semangat bagi orang Kristen modern.

b.      Kegagalan gereja maupun para tokoh Kristen di masa lalu juga berperan menjadi peringatan bagi kita (band. 1Kor 10:6, 11).

c.       Kesuksesan gereja pada waktu tertentu dalam sejarah juga bisa menyadarkan betapa gereja sekarang mengalami dekadensi. Contoh: buku Institutio Calvin dulu merupakan buku bacaan jemaat, tetapi sekarang hanya menjadi konsumsi mahasiswa teologi.

d.      Keberhasilan gereja melalui berbagai penganiayaan dan kesulitan (terutama abad ke-1 – ke-4 M) sering memberi penghiburan bagi gereja modern.

6.      Sejarah membebaskan kita dari pikiran kita yang salah bahwa kita lebih bijaksana daripada para pendahulu kita.

a.       Pelajaran sejarah membebaskan kita dari bahaya "chronological snobbery” (C. S. Lewis), sehingga kita bisa lebih menghargai masa lalu.

b.      Warren Wiersbe mengatakan, "if a study of history does not humble a person, he is reading through the wrong spectacles”.

c.       Kesalahan yang dilakukan para pendahulu kita bisa jadi merupakan produk keterbatasan jaman pada waktu itu. Contoh: neo-ortodoksi Karl Barth dalam konteks berteologi waktu itu.

7.      Sejarah membuat kita bisa memahami diri kita sendiri secara lebih baik.

Dengan mengetahui dari mana kita berasal akan membuat kita semakin paham tentang keadaan kita sekarang, bahkan apa yang akan terjadi di masa yang akan datang.

q  Arnold Toynbee mengatakan, "I have always had one foot in the present and the other in the past”.

q  Kierkegaard menulis, "life must be lived forwards, but can only be understood backwards”.

8.      Sejarah merupakan bahan nasehat, pedoman pelayanan maupun bahan ilustrasi kotbah yang luar biasa.

 

 Penulisan sebuah sejarah

            Mengetahui bagaimana sebuah sejarah ditulis akan membantu kita dalam memahami apa yang dituliskan. Penulisan sejarah melibatkan beberapa proses yang tidak terelakkan:

1.      Akumulasi data

Seorang penulis sejarah selalu bergantung pada ketersediaan data yang ada, karena ia tidak mahatahu. Sebagian data ia dapatkan secara langsung sebagai saksi mata, tetapi sebagian yang lain didapatkan dari orang lain maupun bukti yang lain. Sehubungan dengan hal ini, biasanya tidak ada seorang penulis sejarah yang berhasil mendapatkan semua data yang diperlukan secara detil. Howard I. Marshall mengatakan, "possibly in a perfect world the evidence would be complete and would permit of only one correct interpretation, so that the facts worked out by the historian would be correct representations of the past events. In general, however, we cannot expect this to happen

2.      Seleksi data

Tidak ada penulis sejarah yang mencatat apa saja yang terjadi secara detil. Sekalipun mereka melihat suatu peristiwa secara langsung, mereka belum tentu mampu mengingat setiap detil peristiwa. Dalam banyak hal mereka tidak menuliskan semua yang mereka ketahui, karena mereka biasanya memiliki tujuan penulisan tertentu yang spesifik. Dengan kata lain, data yang mereka peroleh belum tentu relevan dengan tujuan yang ingin dicapai.

Salah satu keterbatasan dalam aspek ini diekspresikan secara eksplisit oleh Thucycides, representasi ahli sejarah Romawi-Yunani, dalam buku History of the Peloponnesian War, 1.22.1:

It was difficult for me to remember the exact substance of the speeches I myself heard and for others to remember those they heard  elsewhere and told me of...I have given the speeches in the manner in which it seemed to me that each of the speakers would best express what needed to be said about the ever prevailing situation, but I have kept as close as possible to the total opinion expressed by the actual words.

3.      Interpretasi data

Karena penulis sejarah seringkali tidak mendapatkan  semua data yang diperlukan, ia harus merekonstruksi apa yang sebenarnya terjadi hanya dari data yang ada. Usaha ini tentu saja melibatkan unsur interpretasi. Selain itu, dari sekian banyak data yang berhasil ia peroleh, belum tentu semua data tersebut memiliki kaitan yang eksplisit. Unsur interpretasi sendiri tidak selalu berarti pengabaian fakta. Leon Morris menulis, "it is worth noticing at the outset that interpretation does not necessarily mean distortion of the facts. Indeed, the absence of interpretation may sometimes mean distortion”

 

Apa implikasi rangkaian proses di atas dengan isi sejarah yang ditulis?

1.      Para penulis sejarah memiliki pandangan tersendiri tentang apa yang dia tulis, sesuai dengan tujuannya. Contoh: mengapa hampir semua buku sejarah gereja membahas tentang gereja Barat?

2.      Para penulis sejarah tidak selalu memberikan gambaran yang sama tentang satu peristiwa yang sama, karena penafsiran mereka terhadap data yang ada berbeda.

3.      Para penulis sejarah tidak bisa melepaskan diri dari unsur subjektivitas, betapa pun kecilnya itu. Contoh: menamakan apa yang terjadi pada abad ke-16 sebagai "reformasi gereja” sudah tentu menyiratkan subjektivitas dari perspektif Protestan bahwa gereja sebelum reformasi telah mengalami dekadensi.


by Pastor Yakub Tri Handoko M.T.h

Views: 12541 | Added by: heri | Rating: 0.0/0 |
Total comments: 0
Name *:
Email *:
Code *: