Main » 2009 » November » 3 » TENAGA DALAM
TENAGA DALAM
8:06 AM

TENAGA DALAM

 

 

 

I.         Pendahuluan

 

   Dalam kehidupan manusia khususnya orang-orang Asia, istilah tenaga dalam bukanlah istilah yang asing lagi. Istilah ini selalu berkaitan dengan suatu tenaga dari tubuh manusia yang  keluar lebih besar dari tenaga yang biasanya yang ada dalam diri seseorang. Tenaga dalam yang keluar dari dalam seseorang dapat berbentuk bermacam-macam seperti  kebal terhadap benda tajam, bisa melakukan sesuatu yang luar biasa misalnya lari dengan cepat, kuat mengangkat sesuatu yang sangat berat, bisa menyembuhkan penyakit dan fenomena-fenomena lainnya.

Tenaga dalam dapat dikategorikan dalam dua golongan. Tenaga dalam kategori ilmu putih dan tenaga dalam kategori ilmu hitam. Mengutip perkataan Chaplin, Pondsius dalam bukunya Ilmu Hitam dan Ilmu Putih, mengatakan bahwa Ilmu Hitam secara praktis sama dengan guna-guna atau sihir. Hal itu adalah ilmu yang diarahkan untuk merusakkan orang lain, hewan, atau menajiskan lembaga atau ilah. Yang termasuk didalamnya adalah guna-guna atau sihir dan mantera atau kejadian yang diadakan dengan bantuan roh temasuk didalamnya tenaga dalam. Sebaliknya ilmu putih adalah satu istilah yang dipakai untuk memberi ciri khas kepada usaha untuk menangkal jampi-jampi atau untuk menggunakan kuasa-kuasa supra alami untuk kebaikan lebih dari pada kejahatan yang salah satu didalamnya termasuk tenaga dalam[1].

Istilah “tenaga dalam” tidak pernah digunakan dalam Alkitab. Alkitab membicarakan keberadaan manusia sebagai makhluk yang memiliki dua unsur, roh dan tubuh, yang keduanya menyatu, tak terpisahkan. Maka dalam Alkitab mengungkapkan banyak data tentang bagian dalam yang tidak terlihat dari manusia yang biasanya disebut diri, batin, atau hati. Namun  perlu diingat bahwa Alkitab tidak pernah membicarakan suatu daya atau kekuatan lebih  yang muncul dari dalam tubuh manusia untuk melakukan sesuatu yang diluar kemampuan manusia. Alkitab hanya membicarakan suatu keajaiban atau mujizat yang supranatural. Penyembuhan yang tercatat dalam Alkitab tidak dapat dipahami sebagai penggunaan tenaga dalam. Alkitab tidak pernah mengungkapkan masalah ajian-ajian tertentu. Bahkan kekuatan yang dimiliki Simson atau tokoh-tokoh Alkitab yang perkasa, bukan karena mereka memiliki tenaga dalam tetapi karena Roh Kudus. Namun demikian Alkitab juga mencatat ada beberapa kejadian yang jelas berkaitan dengan kuasa kegelapan seperti dalam cerita Baryesus di Kisah Rasul 13:6, Baryesus mempraktekkan ilmu hitam ( sihir) dan ilmu putih ( sebagai nabi palsu yang tentunya bernubuat palsu ).

 

II. Pandangan Alkitab mengenai Tenaga Dalam

   Tetapi ketika kita menanyakan, “Apa kata Alkitab tentang tenaga dalam?” Maka tidak dapat disangkal bahwa yang dibicarakan adalah bagian manusia yang dalam. Sepertinya bagian yang tak terlihat itu memiliki kekuatan yang dahsyat. Dengan demikian, kita harus melihat sisi lain ketika mempertanyakan, “Apa kata Alkitab tentang tenaga dalam?” Pada akhirnya, ia harus memberi jawab atas petanyaan, “Bolehkah orang kristen memiliki dan menggunakan tenaga dalam?”

Firman Tuhan dengan jelas mengatakan bahwa tenaga atau kekuatan yang dari dalam itu hanya muncul karena dua unsur seperti yang pernah terjadi dalam peristiwa Musa dan Harun di hadapan raja Firaun. Di atas kemampuan manusia biasa bekerja dua kuasa : kuasa Allah atau kuasa iblis[2]. Hal yang perlu diperhatikan ketika peristiwa Musa dan Harun di hadapan raja Firaun adalah apakah kemampuan yang dimiliki Musa dan Harun dan ahli-ahli mesir itu merupakan kemampuan manusia?. Hal ini gampang sekali untuk dijawab, karena jelas sekali bahwa perbuatan yang mereka lakukan adalah perbuatan yang diluar kekuatan manusia. Sementara Musa dan Harun jelas mempergunakan kekuatan Allah karena mereka diutus Allah ( Kej 7:8-9) maka orang-orang berilmu dari Firaun adalah menggunakan sihir dan mantera-mantera mereka (Kej 7:11 ).

 

II.a Tak ada kesamaan

              Harus diakui bahwa di kalangan  Kristen sendiri tidak ada kesamaan pendapat tentang tenaga dalam. Ada banyak orang Kristen yang berpendapat bahwa tenaga dalam itu netral dan manusiawi. Ia boleh dimiliki dan digunakan. Bahkan ada yang berpendapat bahwa dalam tubuh manusia memang sudah ada tenaga dalam itu, tinggal dilatih dan digunakan untuk kebaikan. Hal ini dapat kita lihat dari keberadaaan Kyai Sadrach dan Kyai Tunggul Wulung  yang menggunakan kekuatan batin/tenaga dalam untuk mewartakan injil. Demikian juga dengan orang Kristen tertentu pada jaman ini, banyak yang melatih tenaga dalamnya setiap hari.Sebagian orang Kristen sedikit selektif. Mereka berpendapat bahwa tenaga dalam yang tidak diperoleh dari kegiatan spiritual atau tidak melalui transfer dari seseorang, adalah tenaga dalam yang netral. Ia memang merupakan kekuatan  batin dari manusia itu sendiri. Ia adalah anugerah Tuhan yang harus dipersembahkan kembali kepada Tuhan.Namun sebagian orang Kristen menolak mentah-mentah. Apapun bentuknya dan dari manapun asalnya, tenaga dalam bukanlah anugerah Tuhan dan tidak diijinkan hadir dalam kehidupan orang beriman. Ada segudang argumentasi untuk menolak tenaga dalam. Beberapa orang menolak  tenaga dalam karena masalah latar belakang dari tenaga dalam itu sendiri, motivasi yang salah dalam mempelajarinya, dan masalah hubungan antara tenaga dalam dengan masalah mengutamakan Tuhan. Seperti yang dikatakan oleh Pdm. David Chia,dalam bukunya Hancurnya kuasa gelap oleh iman, ia mengatakan bahwa bisa saja ilmu tenaga dalam yang dimiliki oleh seseorang itu berasal dari sijahat walaupun ia seorang  Islam, Kristen maupun agama lain[3]. Hal ini ia dukung dengan kesaksian mahasiswa Kristen yang berkonsultasi dengan seorang dukun. Dan dukun itu mengatakan bahwa ia bisa berhubungan dan berdoa dengan agama apapun. Hal senada juga diungkapkan oleh Pondsius bahwa baik ilmu putih maupun ilmu hitam semuanya mempunyai latar belakang dan dilatarbelakangi oleh roh jahat dengan berbagai pekerjaan yang menakjubkan[4]. Dari hal ini sangat jelas sekali bahwa iblis bisa mengadakan tipu muslihat yang sangat menakjubkan.

 

II.b  Sikap Orang Kristen Terhadap Tenaga Dalam

              Ketika kita mencoba menyikapi tenaga dalam, ada dua unsur yang harus diperhatikan. Pertama, Alkitab harus dijadikan dasar dan kaidahnya. Alkitab memang tidak pernah berbicara secara khusus tentang tenaga dalam. Tetapi ia berbicara tentang prinsip-prinsip kehidupan iman, didalamnya juga terdapat prinsip untuk menilai dan mengambil keputusan. Kedua, Allah mengajar untuk tidak menghakimi tanpa dasar. Segala sesuatu harus memiliki alasan untuk ditolak atau diterima. Demikian juga dengan tenaga dalam, kita perlu memperhatikan seluk-beluk tenaga dalam sebelum menyikapinya.

              Ketika menelaah problematika di seputar tenaga dalam. Ada beberapa unsur yang harus diperhatikan. Pertama, harus diakui bahwa ada banyak pendekar atau pengguna tenaga dalam yang memanfaatkannya untuk kebaikan. Kesembuhan atau menolong orang dari kesusahan ( yang digolongkan dalam ilmu putih ). Kedua, tenaga dalam selalu dihubungkan dengan kesehatan atau kesejahteraan (baca: rasa aman). Di  sisi lain, kita juga makin dapat melihat bahwa makin banyaknya preman dan tindak kriminal mendorong makin banyak orang berlatih ilmu bela diri terutama unsur tenaga dalamnya untuk menjaga diri. Ketiga, tenaga dalam berasal dari tiga sumber, yakni membangkitkan dari dalam diri, menyerap dari sang guru (baca: ditransfer dari seseorang), dan menyerap dari alam[5]. Keempat, tenaga dalam berhubungan erat dengan latar belakang budaya dari masyarakat yang mengembangkannya[6].

              “Kesucian” pendekar dan pengguna tenaga dalam yang menggunakan kekuatan itu untuk berbuat baik, patut diteladani dalam arti tindakannya bukan ilmunya. Sering kita jumpai, orang begitu tulus hati dalam berbuat baik dengan tenaga dalamnya.  Bahkan perbuatan itu sering lebih baik daripada sebagian orang Kristen yang tidak bertanggung jawab atas imannya. Kita yang telah mengenal Kristus dan ditebusNya, sudah seharusnya berbuat baik. Kebaikan kita bukan berasal dari keinginan tertentu, tetapi dimotivasi oleh Kristus. Ia yang telah menyelamatkan, menghendaki perubahan dari kehidupan kita. Lebih dari itu, perbuatan baik kita memang sudah sewajarnya ada, karena barang siapa yang mengakui dirinya percaya, maka buah Roh yaitu kebaikan, harus tampak (Gal.5:22). Kita harus termotivasi oleh “kesucian” para pendekar tenaga dalam untuk melakuakn perbuatan baik, dan meningkatkan kualitasnya. Paulus berkata, “Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik,….. Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang,….” (Gal.6:9-10). Kepada Titus, anak bimbingannya, Paulus berpesan, “Dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik” (Tit.2:7). Dari hal ini dapat dimengerti bahwa bukan pada ilmunya kita meneladani tetapi dari gaya hidup yang mau menolong orang lain itu yang diteladani.

              Tenaga dalam mendorong manusia untuk menanggalkan pencarian spiritualitas yang benar dalam nilai kekristenan. Banyak alasan yang mereka gunakan untuk mempergunakan ilmu tenaga dalam, seperti yang diungkapkan Pondsius Takaliuang dalam bukunya Antara Kuasa Gelap dan Kuasa Terang, para pengguna tenaga dalam yang juga tergolong mempunyai alasan mengapa mereka menggunakan tenaga dalam, antara lain : untuk menghormati orang tua, untuk menghormati orang mati, menggunakan nama Trinitas Allah atau Kitab Suci, pertolongan dengan okultisme mendatangkan kebaikan dan sukses hidup dan alasan   adat-istiadat yang menuntut[7].

Alkitab jelas mengatakan bahwa memperhatikan yang jasmani itu penting. Tetapi Alkitab juga menekankan bahwa memperhatikan yang rohani itu jauh lebih penting. Oleh sebab itu, Yesus pernah berkata, “Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu anggota tubuhmu binasa daripada tubuhmu dengan utuh di campakkan kedalam neraka” (Mat.5:29). Perkataan keras dan ekstrim ini menandakan bahwa disamping yang jasmaniah, ada hal yang perlu diperhatikan dengan seksama. Kerohanian!. Justru ditengah maraknya kecenderungan manusia untuk memikirkan yang jasmaniah belaka, tenaga dalam bagaikan minyak yang disiramkan ke api yang membara. Di sisi lain, ini merupakan usaha untuk mengagalkan kebergantungan mutlak manusia pada Tuhan. Tenaga dalam mendorong manusia untuk mengandalkan dirinya bahkan kepada alam ciptaan Tuhan. Dalam beberapa catatan, selalu ditekankan bahwa dalam diri manusia terdapat potensi untuk menjaga kesehatan dan menjaga diri. Kita juga menemukan bahwa salah satu sumber tenaga dalam itu adalah alam semesta, matahari, bumi, dan udara. Bukankah ini merupakan upaya untuk mengagalkan Tuhan Semesta Alam dari sisi terpenting dalam hidup manusia. Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa Tuhan yang menurunkan hujan bagi manusia yang jahat dan yang baik. Walaupun sepertinya hujan itu peristiwa alam, tetapi sebagai umatNya, kita perlu mengimani bahwa hujan itu anugerah Tuhan. Dalam Perjanjian Lama, kita dapat menemukan tindakan Tuhan yang menahan air hujan turun di tanah Palestina selama beberapa tahun karena kesalahan Israel.

              Alkitab memang tidak pernah menggunakan istilah “tenaga dalam”; dan ia tidak membahas masalah tenaga dalam. Tetapi perkataan Paulus sungguh sangat menarik. Pada daftar perbuatan daging yang dicantumkan Paulus dalam Gal.5:19-21, terdapat satu kata yang sebenarnya mengait secara langsung pada masalah tenaga dalam. Kata itu adalah “sihir”. Kata ini berasal dari bahasa Yunani “Pharmakia”. Dari kata inilah muncul kata “farmasi” karena kata ini memang berhubungan dengan obat-obatan. Tetapi kata yang sama juga berhubungan ilmu sehingga dalam salah satu terjemahan Alkitab, kata itu diterjemahkan “ilmu gaib”; dan memang, ilmu yang dimaksudkan adalah ilmu-ilmu metafisika ( yang dikenal sekarang salah satunya  sebagi tenaga dalam ). Dalam Alkitab bahasa Indonesia memang sedikit kurang jelas. Konotasinya adalah ilmu yang datang dari setan. Tetapi kata “Pharmakia” tidak hanya berkonotasi ilmu-ilmu metafisika yang berasal dari iblis. Tetapi pada prinsipnya, ilmu-ilmu metafisika yang berasal dari oknum diluar Tuhan. Kita perhatikan tenaga dalam, sumbernya adalah manusia dan alam. Walaupun ada yang mengatakan datangnya dari Tuhan. Tetapi ketika kita membaca prosesnya, dimana sang guru memberi tenaga dalam lalu sang murid diminta untuk dekat dengan Tuhan agar ilmunya berkembang. Maka mau tidak mau, kita harus melihat bahwa tenaga dalam itu bersumber pada manusia dan alam, sesuatu diluar Tuhan. Paulus berkata bahwa itu termasuk perbuatan daging. Perbuatan yang bertentangan dengan buah Roh. Maka tak mengherankan bila tenaga dalam memiliki warna yang berbeda-beda pada setiap suku bangsa; walaupun pada prinsipnya sama saja.

 

III. Kesimpulan

              Dengan demikian jelas, bahwa orang Kristen tidak boleh memiliki dan menggunakan tenaga dalam. Karena didalamnya bukan hanya sekedar membuat dirinya tidak bergantung mutlak kepada Tuhan. Tetapi justru melihat sesuatu di luar Tuhan.Hal itu sungguh sangat berbahaya bagi pertumbuhan iman. Beberapa orang mengalami bahwa ,kepercayaan diri memang makin meningkat, seiring dengan kemajuan-kemajuan yang dicapai dalam ilmu tenaga dalam. Tetapi justru pada saat itulah, kehidupan iman seseorang tidak akan berkembang.

Bentuk-bentuk, jenis-jenis, macam-macam praktek ocultisme bersumber pada tiga keinginan manusia, yang erat sekali hubungannya dengan kejatuhan manusia pertama kali dalam dosa. Berakar pada keinginan manusia untuk mempertahankan hidup, keingin tahuan manusia, dan keinginan berkuasa[8]. Semuanya merupakan ilham dari Iblis dengan menggunakan bermacam-macam cara, benda, dan bentuk ocultisme.

Kesimpulan penulis jelas, apapun nama dan istilah dari ilmu tenaga dalam itu, setiap orang kristen yang sudah mulai mencoba, maka ia akan mengalami kemandegan pertumbuhan iman yang akan membawa kepada kehancuran iman. Hanya satu yang patut di lakukan oleh orang Kristen, membuat dirinya menjadi manusia yang mewujudkan, “Hidupku bukanlah aku lagi tetapi Kristus yang hidup di dalamku”. Hidupku bukan untuk diriku. Hidupku bukan untuk mendapatkan kemuliaan. Hidupku bukan untuk kebesaran diri. Hidupku adalah bergantung pada dan untuk Kristus.

 

 



[1] , Ilmu hitam dan ilmu putih, YPII, Batu 1993, hal. 4

[2] Unarto, Erich, Menyingkap tabir praktek-praktek kuasa kegelapan, Yayasan Pekabaran Injil Kawanan Domba Kecil, Jakarta, 2004, hal. 78.

[3] Chia, David, Hancurnya Kuasa gelap oleh Iman, Institut Alkitab dan theologia Jakarta, 1986. hal.86

[4] Pondsius, Ilmu hitam dan ilmu putih, hal. 22-32

[5] Endraswara, Suwardi. Mistik kejawen, sikritisme,simbolisme dan sufisme dalam budaya spiritual jawa. Narasi penerbit, Jakart. 2003, Hal.19

[6] Patrice Some, Malidoma, Ritual, Power, Healing and Community, Swan/Raven & Company. Portland, oregon, 1993, hal. 50

[7] Pondsius, Takaliuang, Antara Kuasa Gelap dan Kuasa Terang, YPPII, Batu, 1987, hal 82-84.

[8] Pondsius, Antara Kuasa Gelap.hal 29

Views: 4995 | Added by: heri | Rating: 0.0/0 |
Total comments: 0
Name *:
Email *:
Code *: